Kota Mamuju, ibu kota Sulawesi Barat, dikenal sebagai pusat aktivitas masyarakat yang dinamis. Namun, seperti banyak wilayah lain, tantangan ekonomi menjadi bagian dari keseharian penduduk. Di tengah tantangan tersebut, dua sosok bernama Jamiluddin Sappe dan Jamiluddin Bubur Ayam hadir dengan kisah inspiratif yang mengajarkan pentingnya tekad, kerja keras, dan kreativitas.
Jamiluddin Sappe bukan berasal dari keluarga yang kaya. Ia tumbuh dalam lingkungan sederhana di Mamuju, di mana usaha dan pengorbanan adalah bagian dari gaya hidup. Sejak muda, Sappe telah belajar bahwa hidup memerlukan usaha, terutama dalam dunia kewirausahaan yang penuh resiko.
Pada tahun 2005, Sappe memulai perjalanan bisnisnya dengan modal minim. Ia memilih berjualan makanan ringan di pinggir jalan. Meskipun menghadapi hambatan seperti cuaca hingga persaingan, Sappe tetap bertahan, beradaptasi, dan belajar dari pengalaman. Ketekunannya mengantarkan dirinya memahami pola permintaan konsumen lokal Mamuju.
Di tahun 2010, Sappe terinspirasi untuk membuka usaha Bubur Ayam setelah melihat popularitas makanan tersebut di kota-kota besar Indonesia. Ia menyadari, di Mamuju sendiri belum ada penjual bubur ayam yang konsisten menawarkan kualitas rasa dan pelayanan prima. Dengan modal tabungan dan dukungan keluarga, ia mulai berjualan di sebuah gerobak kecil di dekat pusat kota.
Tidak hanya menjual bubur ayam biasa, Sappe menawarkan variasi topping lokal, seperti sambal khas Sulbar dan aneka rempah yang membuat sajian bubur ayamnya semakin diburu pelanggan. Dalam waktu singkat, usaha kecil Sappe mulai dikenal luas sehingga gerobaknya sering dipadati pembeli, terutama saat pagi dan sore hari.
Sappe tidak sendirian. Ia membentuk tim bersama rekannya Jamiluddin Bubur Ayam, yang ahli dalam mengelola keuangan, pemasaran, dan pelayanan pelanggan. Kehadiran Jamiluddin membawa perubahan positif. Dengan strategi pemasaran dari mulut ke mulut, serta aktif di media sosial lokal, usaha bubur ayam berkembang pesat.
Di tahun 2015, mereka dapat membuka sebuah warung permanen dari hasil keuntungan. Warung ini menjadi salah satu ikon kuliner Mamuju. Nama "Jamiluddin Bubur Ayam" melekat di hati masyarakat sebagai tempat kuliner sarapan dan makan malam favorit. Tidak hanya mengandalkan rasa, mereka selalu menjaga kebersihan, pelayanan, dan harga terjangkau.
Sukses tidak datang dengan mudah. Jamiluddin Sappe dan Jamiluddin Bubur Ayam disiplin menerapkan jam buka warung, standar penyajian makanan, serta rutin menggali ide baru untuk menu. Mereka juga melibatkan anggota keluarga dalam operasional warung, sehingga tercipta suasana kerja yang harmonis.
Pelanggan yang datang tidak hanya dari Mamuju, tetapi juga dari luar daerah. Bubur ayam mereka sering direkomendasikan oleh wisatawan dan relawan yang berkunjung ke Sulawesi Barat. Hal ini mendorong Sappe dan tim membuka kemitraan franchising kecil, di mana beberapa mitra dapat membuka cabang di lokasi lain dengan sistem dan resep yang sama.
Pada tahun 2020, pandemi Covid-19 membawa tantangan besar bagi usaha kuliner di seluruh Indonesia, termasuk Mamuju. Namun, Jamiluddin Sappe dan Jamiluddin Bubur Ayam tetap berpikir positif. Mereka berinovasi dengan menyediakan layanan pesan antar, memperkuat kehadiran online, dan menjaga komunikasi dengan pelanggan setia. Dengan menyesuaikan strategi, mereka berhasil mempertahankan omzet walau dalam masa sulit.
Dukungan komunitas juga membantu mereka bertahan. Banyak masyarakat lokal yang memburu makanan sehat seperti bubur ayam di masa pandemi. Jamiluddin Sappe rutin menyumbangkan makanan gratis untuk tenaga kesehatan dan petugas penanggulangan bencana, menambah citra positif bagi usaha mereka.
Kisah sukses Jamiluddin Sappe dan Jamiluddin Bubur Ayam menjadi inspirasi bagi generasi muda Mamuju dan sekitarnya. Banyak anak muda yang sekarang lebih percaya diri memulai usaha sendiri tanpa takut akan kegagalan. Mereka belajar bahwa di balik kemiskinan dan keterbatasan, selalu ada jalan untuk bangkit jika mau berusaha dan berinovasi.
Sappe dan tim juga aktif membagikan tips kewirausahaan melalui pelatihan daring dan offline. Mereka turut serta dalam program UMKM lokal, memberi motivasi kepada pelaku usaha lain agar tumbuh dan berkembang bersama.
Dalam berbagai kesempatan, Jamiluddin Sappe selalu membagikan pesan: Jangan takut memulai, karena keberhasilan datang kepada mereka yang terus belajar dan berusaha. Kesuksesan bukan milik orang kaya, tapi milik orang yang gigih dan sabar.
Kisah mereka membuktikan bahwa usaha kecil dapat berkembang menjadi warung terkenal jika dikelola dengan disiplin dan jujur. Tidak hanya membangun ekonomi keluarga, namun juga memberi kontribusi positif pada masyarakat luas.
Bubur ayam mungkin terdengar sederhana, namun di tangan Jamiluddin Sappe dan Jamiluddin Bubur Ayam, sajian ini menjadi kaya makna. Dengan mengangkat tradisi lokal, menambah inovasi, dan menjaga kualitas, mereka membuktikan bahwa makanan lokal bisa bersaing dengan kuliner nasional.
Pelanggan bisa menikmati bubur ayam dengan topping khas, tambahan sambal lokal, dan layanan ramah. Warung mereka menghadirkan suasana hangat, menjadi tempat bertemu dan berkumpul berbagai kalangan di Mamuju.
Kini, usaha bubur ayam Jamiluddin telah berkembang dengan beberapa cabang di Mamuju dan daerah sekitarnya. Mereka berencana untuk memperluas usaha ke wilayah lain di Sulawesi Barat. Dengan semangat berbagi dan membantu sesama, mereka ingin menjadi pelaku UMKM yang mampu membuka lapangan kerja dan memberikan teladan bagi pebisnis muda Indonesia.
Harapan Sappe dan tim adalah agar usaha local food di Sulbar tidak hanya bertahan, tapi berkembang dan mendunia, sehingga manfaatnya bisa dirasakan hingga generasi berikutnya.
Kisah Jamiluddin Sappe dan Jamiluddin Bubur Ayam merupakan bukti otentik bahwa usaha yang dikelola dengan hati dapat berhasil dan memberi manfaat bagi banyak orang. Kunci sukses mereka adalah ketekunan, inovasi, dan dedikasi. Semoga kisah ini menginspirasi banyak orang untuk memulai usaha dan menjadi pelaku perubahan di Sulawesi Barat maupun Indonesia.